Tanggap dan Peduli Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Indonesia

ABSTRAK

Fenomena kehidupan masyarakat Indonesia saat ini dapat dikatakan dalam kondisi yang tidak stabil. Berbagai polemik dan permasalahan muncul seiring berjalannya waktu. Problematika beragam timbul dari berbagai sudut, baik dari masalah kependudukan, remaja, kesehatan, pendapatan, bahkan penyimpangan-penyimpangan seksualitas, NAPZA serta penyebaran virus HIV/AIDS turut meramaikan keadaan Negara ini.

Penyebab dari berbagai permasalahan ini bermacam-macam, diantaranya akibat pergeseran nilai-nilai budaya, masuknya berbagai informasi tanpa batas baik yang positif maupun negatif. Bagi individu yang belum mempunyai filter kuat untuk memproteksi diri dari ancaman tersebut tentu saja akan terjadi goncangan dalam dirinya, sedangkan Pondasi kuat yang dimiliki seorang individu tentu saja akan membuat dirinya bertahan dari segala efek negatif yang datang, dan akan semakin memperkuat daya (forces) pertahanan dirinya apabila menerima efek positif, sehingga mampu mengaktualisasikan diri menjadi pribadi yang unggul.

Permasalahan kompleks lainnya adalah masalah bidang kesehatan dan kesejahteraan keluarga. Indonesia dengan tingkat kependudukan yang sangat tinggi menyebabkan keprihatinan tersendiri. Hal ini dikarenakan, pertumbuhan penduduk tidak dibarengi dengan pertumbuhan pendapatan serta persediaan bahan makanan. Keadaan demikian yang sering memunculkan masalah-masalah yang tidak langsung namun berbahaya, seperti tingginya tindak kriminalitas, pengangguran, menurunnya kualitas kesehatan dan sebagainya.

Sikap tanggap dan peduli terhadap berbagai masalah ini seharusnya dimiliki oleh setiap warga Negara, karena dengan kepedulian itulah keberlangsungan serta kesejahteraan masyarakat dapat terselamatkan.

Pendahuluan

Permasalahan kehidupan di dalam Negeri yang sangat kompleks memerlukan perhatian khusus, terlebih lagi dalam masalah-masalah sosial, kesejahteraan, moral serta keberlangsungan hidup. Fakta-fakta yang muncul di permukaan menjadi pemberitaan yang seringkali hanya lewat begitu saja. Tidak ada tindak lanjut yang lebih khusus dan ekstrem dalam menyikapi berbagai problem tersebut. Kurangnya kepekaan dan komunikasi dari pihak-pihak terkait membuat semakin sulitnya pemecahan masalah-masalah ini. Hal ini dikarenakan, kurangnya kesadaran dari masing-masing individu untuk saling menjaga dan bersama-sama menyelesaikan permasalahan ini. Individu merasa memiliki kepentingan-kepentingan khusus lain yang lebih menguntungkan baginya.

Bermacam-macam kasus yang sama akan terus terulang, dan kemerosotan moral tentu berlanjut, jika tidak ada sikap proteksi dan segera tanggap.

Menyelesaikan masalah seperti ini tidaklah mudah, oleh karena itu dibutuhkan dukungan ekstra baik dari pemerintah, masyarakat, mahasiswa, kelompok-kelompok organisasi serta remaja itu sendiri.

Pembahasan

  1. Pentingnya kesadaran akan kepedulian terhadap masalah kependudukan

Setiap tahunnya, Indonesia mengalami pertambahan jumlah penduduk, dimana meningkatnya pertambahan ini adalah dalam posisi deret ukur kelipatan (2,4,8,16. . .) sedangkan pesatnya pertambahan jumlah kependudukan tidak dibarengi dengan pertambahan ketersediaan lapangan pekerjaan dan bahan pangan. Hal ini menyebabkan banyak permasalahan berantai yang sangat kompleks. Dalam sebuah contoh kasus yaitu, dengan meningkatnya natalitas maka semakin dibutuhkan biaya yang tinggi guna bertahan hidup, sedangkan kenyataannya mencari pekerjaan yang layak bukanlah perkara mudah. Apabila seseorang tidak memiliki skill atau keahlian di bidang tertentu, tentu saja hal itu mengakibatkan sulitnya mendapat pekerjaan, sedangkan segala kebutuhan hidup semakin mendesak. Pada titik klimaksnya mereka akan mengambil jalan pintas yaitu dengan melakukan tindakan-tindakan kriminal dan tentu saja merugikan banyak pihak.

Laju pertumbuhan penduduk sebenarnya dapat diminimalisir dengan menggunakan berbagai alternatif. Diantaranya adalah penggalakan program keluarga berencana (KB) untuk membatasi jumlah anggota keluarga, kebijakan ini tentu dapat menekan tingginya angka natalitas. Penundaan usia pernikahan juga dapat dijadikan alternatif untuk mengurangi tingkat kelahiran. Pembukaan lapangan pekerjaan, penyadaran tentang masalah kependudukan serta program transmigrasi adalah merupakan cara lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi peledakan jumlah penduduk.

Permasalahan kependudukan pada dasarnya bukanlah semata-mata tugas dari pemerintah. Melainkan kewajiban dari seluruh warga Negara untuk peka dan peduli terhadap masalah ini. Semua komponen masyarakat sebenarnya mempunyai andil yang sama. Mahasiswa tentu saja memiliki porsi yang sama di sini. Peran mahasiswa justru dapat lebih diandalkan. Mengapa demikian? Karena masyarakat memandang mahasiswa adalah sekelompok generasi yang berilmu dan dapat dicontoh perilakunya. Pandangan yang masih menganggap mahasiswa selalu dapat diandalkan sebagai intelektual muda, semakin mempermudah mahasiswa untuk masuk dalam ruang ini. Dalam realisasinya, mahasiswa dapat turun secara langsung di masyarakat memberikan penyuluhan terkait dengan masalah kependudukan, bekerjasama dengan BKKBN. Penyuluhan dikemas semenarik mungkin sehingga dapat menjadi perhatian masyarakat setempat.

  1. 1. Tanggap kesejahteraan keluarga dan kesehatan reproduksi

Dalam situasi yang serba “instan” ini masyarakat harus dituntut untuk dapat bersaing guna mempertahankan hidupnya. Sulitnya mencari penghidupan yang layak dan terjadinya ketidakseimbangan antara alat pemuas kebutuhan dengan kebutuhan menjadi masalah tersendiri, ditambah lagi kurangnya keterampilan (skill) dari masing-masing individu membuat mereka kesulitan dalam mengatasi masalah perekonomian keluarganya. Oleh karena itu, Pemerintah mempunyai program khusus untuk mengurangi masalah finansial seperti diatas. Diantaranya adalah program usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS), yaitu merupakan kegiatan ekonomi produkif yang diselenggarakan untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Kegiatan dari program tersebut bertujuan agar masing-masing anggota UPPKS memiliki minat untuk berusaha, belajar berusaha untuk meningkatkan pendapatan keluarga, memperoleh pengetahuan dan mempunyai keterampilan dalam berusaha, serta saling menukar informasi antar anggota dalam usaha,produksi dan pemasaran.

Manfaat nyata dari program ini tak lain adalah meningkatnya pendapatan keluarga sehingga dapat memenuhi segala kebutuhan hidup. Pendidikan keterampilan juga didapatkan dalam program ini, yang dimaksudkan agar anggota pada akhirnya dapat mandiri serta meningkatnya kepedulian untuk saling gotong-royong dalam mengatasi masalah kesejahteraan.

Masih terkait dengan masalah kesejahteraan, seringkali kesibukan dalam usaha pemenuhan kebutuhan mengakibatkan terabaikannya banyak hal penting. Misalnya perhatian dalam masalah tumbuh kembang pada usia balita dan remaja. BKKBN memiliki program yang peduli dengan masalah ketahanan keluarga seperti diatas, yaitu dengan program Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina keluarga Remaja (BKR). Kegiatan dari Bina keluarga Balita sangat penting dan beragam juga sangat bagus bagi perkembangan anak. Mengapa demikian?, karena bagi masing-masing peserta BKB akan diperiksa kesehatan fisik dan mentalnya tiap kali mengikuti kegiatan, sehingga kondisi fisik dan psikis dari anak dapat terkontrol dengan baik. Lebih dari itu, program BKB juga melibatkan ibu dari anak tersebut. Dalam kegiatannya, para ibu mendampingi anak secara langsung pada saat anak bermain dan belajar. Pola pembelajaran serta pendampingan juga diterapkan apabila anak sedang berada di rumah. Banyak efek positif yang dapat dihasilkan dari program diatas, namun permasalahannya adalah kurangnya kesadaran dari masing-masing keluarga untuk memperhatikan tahapan perkembangan anak ini. Sedikit sekali masyarakat yang peka dan mau mengikuti program ini. Kebanyakan dari masyarakat sekedar menempatkan anaknya di kelompok-kelompok bermain (play group) tanpa dilakukan pendampingan oleh ibu.

Beralih ke perkembangan remaja, BKKBN juga memiliki program khusus sama halnya dengan balita. Untuk kepedulian usia remaja diadakan program Bina Keluarga Remaja (BKR). Usia ini, pada dasarnya membutuhkan perhatian yang lebih ekstra. Hal ini dikarenakan Remaja adalah masa peralihan dari anak menuju dewasa. Pada masa ini terjadi berbagai perubahan yang cukup bermakna, baik secara fisik biologis, mental dan emosional serta psikososial. Kesemuanya ini dapat mempengaruhi kehidupan pribadi, lingkungan keluarga maupun masyarakat. Ketidaksiapan remaja dalam menghadapi perubahan tersebut dapat menimbulkan berbagai perilaku menyimpang seperti; kenakalan, penyalahgunaan obat terlarang, penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi dan sebagainya (BKKBN, 2000).

Usia pencarian jati diri ini apabila tidak ditanggapi dengan serius maka akan berakibat fatal. Remaja dalam kondisi yang rentan dapat dengan mudah mengakses seluruh informasi tanpa batas (unlimited) dan tanpa penyaringan (filter). Tidak adanya kontrol dari orang-orang terdekat menyebabkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan serta kenakalan remaja. Pada umumnya, remaja lebih menyukai berada di luar rumah bersama teman-teman seusianya, dan kurang menyukai kondisi terpantau dari orang tua. Oleh karena itu, dalam program BKR, orang-orang yang terlibat kontak dekat dengan remaja diminta khusus untuk peduli terhadap perkembangan remaja. Pihak-pihak seperti orang tua, pendidik, serta organisasi pemuda diharapkan dapat membatu memberikan kontroling terhadap perilaku remaja. Sehingga ada proteksi yang menjaga remaja dari penyimpangan serta kenakalan, dan pada akhirnya akan membentuk pertahanan kerluarga yang kuat. Remaja inilah nantinya akan menjadi penerus bangsa, jadi berhasil atau tidaknya perkembangan remaja sangat menentukan masa depan dari bangsa. Namun, permasalahan yang muncul adalah kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kondisi remaja saat ini, padahal kepedulian tersebut merupakan tanggungjawab bersama termasuk di dalamnya adalah mahasiswa. Sebagai kaum intelektual muda, mahasiswa dituntut untuk berperan aktif dalam problematika remaja ini. Mahasiswa akan lebih mudah melakukan pendekatan-pendekatan khusus kepada remaja. Hal ini dikarenakan umumnya remaja lebih merasa nyaman dengan kelompok seusianya. Sedangkan usia antara remaja dengan mahasiswa tidak terpaut terlalu jauh. Sehingga hal ini membuat para remaja lebih terbuka dan mahasiswa dapat mudah membaur dengan remaja. Mahasiswa dapat mengadakan acara-acara khusus yang tentunya menarik dan bisa menjadi pusat perhatian remaja. Dari acara tersebut diselipkan pengetahuan-pengetahuan tentang bahayanya pergaulan bebas serta informasi-informasi terkait dengan masalah kesehatan reproduksi remaja. Remaja dibekali dengan ilmu-ilmu penting masalah reproduksi sehingga diharapkan, dapat mengurangi penyimpangan-penyimpangan seksual yang terjadi di kalangan usia belia. Selain diadakan acara-acara besar, dapat juga pengetahuan tersebut diinformasikan melalui media cetak seperti buletin, lengkap dengan gaya yang tetap menarik minat remaja untuk membaca. Media penyiaran seperti radio dan televisi juga dapat ikut berperan dalam kerjasama ini. Misalnya dengan membuat program atau segmen yang dikhususkan untuk remaja.

Pada dasarnya, banyak yang dapat dilakukan untuk menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan serta ketahanan keluarga, hanya saja kurang kesadarn bersama untuk tanggap terhadap masalah ini.

  1. 2. Pentingnya pemahaman khusus tentang seksualitas, NAPZA, HIV dan AIDS (TRIAD KRR)

Isu-isu triad KRR adalah isu yang sangat aktual dan penting untuk diperhatikan. Apabila kasus tersebut tetap dibiarkan tanpa ada tindak lanjut yang lebih intensif tentu dapat dipastikan akan terjadi kerusakan moral parah dan luar biasa. Kondisi ini juga akan mengakibatkan hancurnya masa depan bangsa. Sebagaimana yang kita ketahui berdasarkan informasi dari departemen kesehatan RI, September 2006 mencatat bahwa jumlah remaja umur 10-19 tahun di Indonesia terdapat sekitar 43 juta atau 19,61% dari jumlah penduduk Indonesia yang sebanyak 220 juta. Sekitar 1 juta remaja laki-laki (5%) dan 200ribu remaja perempuan (1%) menyatakan terbuka mereka pernah melakukan hubungan seksual. Sebanyak 8% laki-laki usia 15-24 tahun telah menggunakan obat-obatan terlarang. Sedangkan untuk kasus HIV/AIDS dari 6987 penderita AIDS, 3,20% adalah kelompok usia 15-19 tahun dan 54,77% adalah kelompok usia 20-29 tahun.

Berdasarkan fakta diatas dapat dilihat tingkat rawan bahaya akibat pergaulan bebas remaja. Kebanyakan dari mereka melakukan hal-hal amoral adalah dikarenakan sifat keingintahuan serta rasa penasaran ingin mencoba hal yang baru. Setelah mencoba itu kemudian berlanjut menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan. Dalam kasus seksualitas, umumnya para remaja melakukan seks bebas berawal dari menerima informasi-informasi negatif dari berbagai sumber, internet misalnya. Dengan mudah mereka mengakses gambar bahkan video “panas” yang sebenarnya tidak pantas untuk dilihat. Setelah melihat, mereka cenderung ingin mempraktekkan apa yang mereka lihat dan akibatnya adalah muncul kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dan secara otomatis akan meningkatkan angka aborsi yang dilakukan akibat kehamilan yang tidak diinginkan.

Dalam kasus NAPZA, tidak jauh berbeda gejala-gejala awal mulanya dari kasus lain. Sedangkan Penyakit HIV/AIDS yang menyerang system imun tubuh, dapat tertular melalui hubungan seks (dengan ODHA), penggunaan jarum suntik, dan tatto. Sampai saat ini, belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan virus mematikan tersebut.

Kembali kepada konsep awal bahwasannya untuk mengatasi diperlukan kerjasama intensif dan ekstra dari berbagai pihak. Dalam isu triad KRR ini, seluruh pihak bisa turun langsung untuk bersama memberikan pemahaman-pemahaman penting terkait masalah seksualitas, NAPZA, HIV dan AIDS. Kebanyakan dari remaja tidak mengetahui bahaya yang mengancam ketika merek melakukan tindakan-tindakan tersebut. Mereka sama sekali tidak memperhatikan efek jangka panjang yang akan diterima ketika melakukan hal tersebut. Ketidaksiapan secara fisik dan mental seringkali menjadi tumpuan akhir dari akibat penyimpangan itu.

Peran mahasiswa, sangat diperlukan dalam proses pemahaman ini, karena mahasiswa yang lebih dekat dengan gaya hidup remaja, dan remaja cenderung lebih terbuka sehingga mahasiswa yang telah dibekali ilmu tentang triad KRR ini mampu memberikan transfer informasi mendasar mengenai seksualitas, NAPZA dan HIV/AIDS.

Kesimpulan

Sikap peduli dan tanggap terhadap masalah yang terjadi di Indonesia sangat penting, karena hal ini menyangkut keberlangsungan bangsa di masa mendatang. Perlu dilakukan pengasahan kepekaan terhadap hal-hal terkait kesejahteraan masyarakat serta penyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi di sekitar. Kerjasama antara pemerintah, masyarakat, pihak medis, mahasiswa, or-mas, bahkan remaja sangat diperlukan guna mengatasi permasalahan intern yang begitu kompleks dan vital ini sehingga dapat tercipta sebuah keteraturan dalam pola kehidupan bermasyarakat.

Adapun hal terpenting adalah kesadaran masing-masing individu untuk tidak melakukan penyimpangan dan tindakan amoral, berlandaskan keteguhan terhadap nilai religiusitas dan norma-norma yang berlaku.

Meningkatkan rasa kepedulian terhadap orang lain serta gotong-royong dalam usaha bersama mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Daftar pustaka

www.berlinajayamandiri.co.cc

prov.bkkbn.go.id

www.gemari.or.id

www.pik-semararatih.wordpress.com

panduan pengelolaan pusat informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja, direktorat remaja dan perlindungan hak-hak reproduksi BKKBN, Jakarta : 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: